Showing posts with label Cerber. Show all posts
Showing posts with label Cerber. Show all posts

Sunday, 22 May 2011

Setelah....

Part 5 --- Selesai

HIDUP TERUS BERJALAN

Cerita sebelumnya :
Aku masih berusaha mencoba menerima keadaan ini walaupun sulit. Melihat ibu begitu tegar, memberikan semangat baru lagi bagiku. Aku harus kuat, aku harus menjaga mereka karena sekarang aku lah pemimpin keluarga ini. Kami bertiga pasti bisa melewati semua ini.

Sudah 6 bulan sejak peristiwa itu. Paman Robert menawarkan pekerjaan kepadaku sebagai penjaga toko di tempatnya. Sebenarnya ibu kurang setuju dengan semua ini, karena takut aku terganggu sekolahnya. "Sebaiknya kamu fokus saja dengan sekolahmu, untuk urusan kerja & memenuhi semua kebutuhan biar ibu saja" kata ibu saat ku bilang ingin bekerja di tempat paman Robert. Aku tahu ibu tidak ingin aku terlalu capek bekerja & sekolah terbengkalai. "Biarkan aku mencobanya bu, aku pasti bisa. Kalau toko sepi kan bisa sambil belajar" jawabku berusaha menyakinkan ibu. Ibu akhirnya setuju juga aku bekerja di toko paman Robert dengan syarat sekolah tetap yang utama. Sepulang sekolah aku harus bekerja di tempat paman Robert sampai jam 5 sore. Kerja beberapa jam untuk menambah uang saku biar bisa membantu ibu. Seperti biasa Luc selalu ikut bibi Annie. Aku akan menjemputnya setelah pulang kerja. Di tempat paman Robert, aku masih bisa belajar jika pengunjung sedang sepi. Paman Robert juga begitu baik padaku & keluargaku begitu juga bibi Annie.

Aku merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintai kami. Ibu kembali ceria lagi, kalau minggu tiba ibu seharian mengurus tanaman2 kesayangannya. Kami juga pergi ke gereja mengikuti misa bersama-sama. Terkadang sesekali keluar berbelanja dengan bibi Annie atau mengajak Luc & aku menghabiskan minggu sore dengan makan es krim di cafe favorit kami. Karena kasih dari orang2 terdekat akhirnya membuat hidupku kembali bersemangat. Aku tidak mau terus bersedih. Aku mulai membuka diri untuk bergaul kembali dengan teman2. Kami bersepeda bersama menyusuri danau & mencoba game2 terbaru. Aku bukanlah anak paling malang di dunia ini. Walaupun kejadiaan itu sangat membuatku terpukul tetapi aku tetap bersyukur. Aku tahu semua adalah rencana Tuhan untuk kami. Sekarang ibu tidak harus bekerja sampai larut malam, ibu mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor dengan pendapatan yang lebih baik. Setiap malam kami bertiga bisa berkumpul & makan malam bersama lagi. Walaupun terasa ada yang kurang, karena tidak adanya kehadiran ayah. Tetapi semua itu perlahan bisa kuterima. Aku tidak tahu sampai sekarang mengapa ayah memilih cara begitu menyakitkan. Mungkinkah karena kegagalannya dalam menjalani hidup ini? Entahlah, tetapi aku tetap mencintainya dalam hatiku. Selalu ku berdoa agar ayah bahagia disana. Semua ini sudah terjadi, dan kami tidak boleh terus-menerus bersedih. Aku, ibu, dan si kecil Luc ingin terus melangkah ke depan meraih impian kami. Ayah pasti akan bahagia juga disana jika melihat kami bahagia.

Aku juga tidak membenci Desember lagi, rasanya ingin cepat Desember datang menghampiri hariku. Menyambut natal lagi bersama ibu & Luc serta kenangan ayah. Perhatian & kasih sayang ibu membuatku kuat untuk menghadapi semua ini. "Aku tidak akan membencimu lagi ayah, kamu akan selalu dihatiku" dalam hatiku berkata. Aku akan menjaga ibu & Luc sekarang & selama-lamanya. Semua yang terjadi akan membuatku kuat menghadapi hidup ini. Tuhan pasti mempunyai rencana indah dibalik semua ini.

Note :

Setiap orang pasti pernah merasakan kehilangan, baik itu kehilangan barang/orang2 yang dicintai. Terkadang kita larut dalam kesedihan & duka-cita yang dalam. Seakan kita merasa penderitaan yang tak habis2nya dalam hidup kita.
Tapi, jangan biarkan diri kita terkurung dalam kesedihan yang berlebihan karena kehilangan yang terjadi dalam hidup kita. Belajarlah untuk bisa menerima kehilangan itu meskipun pahit yang kita rasakan. 
Cobalah untuk mensyukuri apa yang terjadi karena dengan semua ini hidup kita akan menjadi indah untuk dijalani. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri dalam kesedihan.
Biarkan Tuhan berkarya merenda kehidupan kita lewat orang lain agar apa yang kita jalani menjadi lebih baik.

Saturday, 21 May 2011

Setelah...

Part 4

KETERPURUKAN

Cerita Sebelumnya :
Ayah meninggalkan kami dengan sejuta kesedihan & kemarahan. Keadaan yang tidak ku mengerti, mengapa beliau memilih jalan seperti itu. Ketakutan menghampiriku menjalani hari esok. Apakah aku sanggup dengan semua ini. 
Bisa dibaca di : http://xerezmalaga.blogspot.com/2011/05/setelah_20.html

Tiga bulan setelah pemakaman, suasana sedih tetap menyelimuti kami. Betapa tidak, ibu terkadang masih duduk di ruang tengah sambil menatapi foto ayah. Aku tahu kalau ibu sangat mencintai ayah, tak akan bisa membencinya walaupun cara yang begitu pahit telah dipilihnya. Aku ? Setiap hari sepulang sekolah hanya mengurung diri di rumah. Aku lebih nyaman untuk berdiam diri sendiri di dalam kamar. Tidak ada kegiatan selain itu, masih dengan kesedihan & kekecewaan. Luc? Adikku masih terlalu kecil untuk memahami semua itu. Dia cukup pintar katanya, "ayah sedang istirahat di surga & suatu saat dia akan pulang". Begitulah si kecil Luc, dia selalu mengatakan itu berulang-ulang di rumah. Hari2 terasa hampa, aku juga jarang bergaul lagi dengan teman2. Walaupun mereka sering ke rumah & mengajakku bersepeda seperti yang biasa kami lakukan. Aku selalu menolak mereka dengan berbagai alasan. Ku tak ingin mereka merasa kasihan padaku karena keadaanku. Dunia ini terasa begitu gelap.

Ibu masih sering pulang larut malam. Aku sungguh sangat mencemaskannya. Perasaan takut akan kehilangan ibu semakin besar. Seperti malam itu ibu jarum jam telah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi ibu belum juga pulang. Membuatku sangat khawatir & mencoba menghubungi salah satu teman kerja ibu di kantor pos. "Hallo, maaf tante Sofie mengganggu malam2. Mau tanya apakah ibuku masih lembur di kantor?" ku menelepon salah satu teman ibu. "Tidak nak, ibumu sudah pulang dari jam 9 malam tadi. Kami naik bis bersama, mungkin sebentar lagi ibumu sampai" jawab tante Sofie. Aku selalu menunggu ibu pulang. Terkadang aku membuatkan makan malam untuknya, tapi ibu selalu bilang dia kenyang. Aku tahu ibu pasti belum makan, mungkin ibu terlalu capek dengan semua ini. Ku tahu ibu ingin menyembunyikan semua kesedihan di hadapan kami. Ibu selalu mengupas bawang dengan begitu dia bisa menangis. Aku tak ingin memberatkan ibu, ku bertekad untuk belajar sebaik2nya. Aku ingin membuatnya bangga. Sekarang aku hanya memiliki ibu & Luc. Melihat ibu telah pulang ke rumah hatiku pun menjadi tenang. Ku bukakan pintu & ku peluk dia. Aku sangat menyayangi dia & Luc.

Minggu pagi ini tak secerah hatiku. "Nak, kamu harus bangun sudah siang" begitulah ibu selalu berteriak membangunkanku. Mataku terasa berat, ku melangkahkan kaki turun dari tangga. "Ayo sarapan, nanti bantu ibu beres2 rumah" kata ibu sambil menuangkan segelas susu kepada kami. "Luc ikut juga ya bu", jawab Luc dengan cepat. "Iya, kamu & kakakmu" kata ibu. Tidak sepertinya ibu bersikap seperti itu. Aku hanya mengganggukkan kepala. "Kita tidak boleh seperti ini terus sayang", kata ibu menoleh kepadaku. Sepertinya ibu begitu serius. "Ibu ingin semua barang2 ayah dikasih ke paman Robert. Ibu hanya ingin menyimpan beberapa barang saja, kamu setuju kan?" katanya dengan serius.

"Kenangan ayahmu akan selalu di hati kita. Ibu tahu kepergian ayah begitu membuatmu terpukul" kata ibu sambil menatapku. "Kita harus bangkit dari semua keterpurukan ini nak, apa pun yang ayahmu lakukan ingatlah dia sangat mencintai kalian" kata ibu dengan mata berkaca-kaca. Saat itu air mataku jatuh membasahi kedua pipi ku. Aku memeluk ibu & Luc. Suasana menjadi haru, walaupun Luc tidak mengerti apa yang terjadi. Melihat ibu begitu tegar, memberikan semangat lagi untuk menjalani hari2 tanpa ayah. Aku harus bisa menjaga mereka ya...ibu & Luc. Aku tidak boleh terus dalam kesedihan. Luc masih perlu bimbingan, sekarang aku lah pemimpin dalam keluarga ini. Kami bertiga pasti sanggup melewati semua ini. "Aku sayang ibu & Luc", bisikku kepada mereka.


Lanjut ----- > part 5

Friday, 20 May 2011

Setelah....

Part 3

SYOK

Cerita sebelumnya :
Ayahku hanya bisa mabuk2an setiap hari. Ibu terlalu sibuk karena bekerja di kantor pos sampai larut malam untuk lembur. Sampai dirumah pun ibu harus mengurus ayah & membersihkan semua muntahan ayah karena alkohol.  Seperti biasanya aku sepulang sekolah harus mengurus rumah & menjaga Luc.
Hari ini tanggal 23 desember, 2 hari lagi Natal akan tiba. Minggu pagi itu ku keluar jalan2 untuk menghirup udara segar bersama dengan Luc. Ibu nampak sedang mengurus kebunnya yang terbengkalai karena sibuk kerja setiap hari. Hanya hari minggu saja ibu sempat mengurus semua tanamannya. Ayahku pasti seperti biasanya duduk & memegang botol minuman di ruang tengah. Itulah kerjaannya sekarang tanpa memperdulikan keadaan sekelilingnya. Dan kami harus bisa menerima semua itu. Kami hanya berkeliling taman pagi itu, tiba2 dikejutkan oleh teriakan bibi Annie begitulah panggilan kepada tetangga kami ini. Bibi Annie nampak berlari & menghampiri kami dengan wajah serius. "Kamu harus kuat ya nak, semua ini telah terjadi & kamu harus bisa menghadapinya "kata bibi Annie dengan muka sedih. Ku tak mengerti apa yang terjadi ini. Aku masih cukup bingung dengan perkataan bibi Annie. Dia memelukku & membisikkan ke telingaku, "ayahmu telah meninggal". Tiga kata ini membuat sekujur tubuhku menggigil, aku tak mempercayainya. Ayahku meninggal? Lelucon apa ini ?

Bibi Annie menuntunku & Luc kembali ke rumah. Di sana nampak Paman Robert sahabat ayah berdiri di teras. Nampak beberapa tetangga juga didalam rumah. Ibu menangis dengan histeris, "teganya kamu meninggalkan kami dengan keadaan begini". Ibu tak henti2 berteriak & menangis. Ibu begitu terpukul & berlutut  di samping ayah. Aku hanya bisa diam & berdiri mematung melihat kejadian ini. Air mataku terasa  membasahi pipiku. Luc terlalu kecil untuk menyaksikan keadaan ini, bibi Annie telah membawa Luc kerumahnya. Hari itu juga mereka membawa jenazahnya ke rumah duka. Ingin ku memeluknya yang terakhir walupun hati ini sakit tetapi kaki ku seakan tidak bisa bergerak. Sungguh tidak percaya dengan semuanya ini. Benarkah ayahku telah tiada? Mengapa dengan cara seperti ini dia meninggalkan kami? Disamping tubuhnya ditemukan botol pil yang telah ditelannya & secarik kertas yang bertuliskan, "maafkan aku, dengan ini semuanya akan terselesaikan". Hanya dengan kata maaf semuanya akan selesai? Dalam diriku muncul rasa marah & sedih.

Ibuku akhirnya sepakat untuk memakamkan ayah keesokan harinya. Aku masih tidak bisa menerima & percaya dengan keadaan ini. Paman Robert menepuk bahuku & berkata, "sekaranglah kamu harus memimpin keluarga ini karena kamulah anak laki2 tertua". Semakin kosong pikiranku, aku yang harus memimpin keluarga ini? Apa aku bisa & sanggup? Aku masih 16 tahun, usia yang terlalu muda untuk menjadi kepala keluarga bukan? Tetapi aku tidak mempunyai pilihan. Bagaimana aku menjelaskan kepada adikku Luc? Apa aku harus bilang, "ayah kita meninggal karena bunuh diri?" Hal yang konyol bukan? Bagaimana aku harus menghadapi semua teman2 di sekolahku? Teman2 akan datang di pemakaman ayahku & mereka akan menatap kami & berkata, "kasihan anaknya, ayahnya meninggal bunuh diri". Aku tidak ingin mendengar semuanya itu. Ingin ku menghilang dari dunia ini. Perasaan marah kepada ayah tidak bisa ku ungkapkan. Aku tidak mengerti mengapa ayah harus memilih cara seperti itu.

Desember yang sangat gelap bagiku & keluargaku. Semua kekecewaan & kesedihan tak akan pernah terlupakan. Aku benci Natal tahun ini & tahun2 yang akan datang. Tidak akan ada lagi Natal indah dalam impianku. Kini semua berubah, harapan untuk kembali hidup bahagia seperti dulu seakan terampas begitu saja karena ayah. Rasa kekecewaan ku pada ayah tidak akan pernah hilang walaupun beliau telah pergi. Perasaan takut menatap hari esok menghantuiku sepanjang waktu. Natal tidak akan indah lagi dalam kehidupan kami. Semua telah hilang yang ada sekarang hanya rasa sedih & kecewa. Sanggupkah aku melewati hari2 tanpa ayah?


-------> Lanjut part 4

Thursday, 19 May 2011

Setelah...

Part 2
Aku tidak mengenalinya lagi

Yukk lanjut lagi ceritanya,...
Cerita sebelumnya : Kebahagiaan keluargaku yang terusik karena ayah di phk dari tempat kerjanya. Ayah begitu terpukul dengan keadaaannya. Ibu sangat sedih begitu juga aku.
bisa baca di http://xerezmalaga.blogspot.com/2011/05/setelah.html

Akhirnya telah setahun lamanya ayahku dirumah & tidak bekerja. Bulan Desember datang lagi, dengan keadaan kami yang tidak lebih baik. Ayah telah mencari pekerjaan ke beberapa tempat tapi tidak diterima. Hal ini membuatnya sangat frustasi & putus asa. Beruntungnya ibu sekarang memiliki pekerjaan di sebuah kantor pos. Dengan kerja keras ibu, aku & Luc masih bisa sekolah. Walaupun ayah mendapatkan uang pesangon tetapi itu juga sudah habis terpakai selama ini. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah tanpa adanya ibu. Semuanya harus aku kerjakan sendiri, karena adikku Luc masih kecil. Ayahku? Dulu aku merasa sangat bangga padanya tetapi saat ini aku merasa sangat kasihan dengan ayahku sendiri. Aku hampir tidak dapat mengenalinya. 

Setiap hari ayah hanya duduk di ruang tengah, sesekali ke kebun belakang dengan memegang botol minumannya. Tentu saja ayahku sekarang menjadi pemabuk. Bahkan sekarang adikku Luc sangat takut kepadanya. Pikirku ayahku tidak membantu kami sama sekali. Dia membiarkan ibuku bekerja sendiri untuk membiayai keluarga ini. Rumah pun aku yang mengurus sekarang setelah pulang sekolah. Aku harus mencuci baju2 kotor, mengelap lantai, mencuci piring kotor, menyiapkan makan siang & malam karena terkadang ibu lembur sampai malam baru pulang. Kata ibu biar bisa mendapatkan uang tambahan buat kami. Aku juga harus menjaga si kecil Luc. Untungnya bibi Annie baik hati, selalu membawa Luc ke rumahnya jika pulang sekolah. Dan mengantarnya pulang jika hari sudah sore. Terkadang bibi Annie juga membawakan makan malam untuk kami.

Malam itu tepat tgl 20 desember, berarti sebentar lagi Natal akan tiba. Tetapi suasana yang kurasakan berbeda dari tahun2 yang lalu. Dimana beberapa hari sebelum Natal kami telah sibuk menghias rumah & pohon Natal. Tetapi tidak dengan tahun ini & tahun lalu. Ibu begitu sibuk dengan pekerjaannya, ayah hanya bisa mengoceh tidak jelas jika alkohol itu telah merasuki pikirannya. Malam itu malam yang kesekian kalinya ayahku muntah di karpet ruang tengah karena mabuk. "Nak kesini bantu ibu membawa ayahmu ke kamar", terdengar suara ibuku memanggilku. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan ibuku yang begitu sabar menghadapi ayahku. Aku tak tega & ku melangkahkan kaki ku ke ruang tengah. Kami berdua membawa ayahku ke kamar. Alkoholnya membuatku ingin muntah. Ibuku dengan sabar menggantikan bajunya & membersihkan bekas muntahan ayah di ruang tengah seperti biasa. Tidak habis pikir ibuku selama setahun ini begitu sabar mengurus ayahku.

Terkadang aku sangat kesal dengan ayahku. Ayah selalu meminta uang  kepada ibu untuk membeli alkohol2 itu. Terkadang memarahi ibu jika ibu melarang atau menasihati ayahku supaya berhenti dari kebiasaan buruknya itu. Ayah bisa mengamuk & memecahkan semua barang yang ada di dalam rumah. Dengan begitu ibuku akan memberikan uangnya untuk membeli minuman2 itu. Kata ayahku alkohol2 itu yang bisa membuat pikirannya tenang. Sebenarnya aku sendiri muak dengan kehidupanku sekarang ini. Kalau tidak karena ibu & Luc mungkin aku sudah pergi dari rumah ini. Bibi Annie juga yang sering menguatkan kami. "Sesuatu yang buruk menurutmu itu tidak akan berlangsung sepanjang hidupmu, janganlah kamu putus asa dengan semua cobaan ini", begitulah bibi Annie selalu memberikan nasihat2nya untuk menyemangati kami. Walaupun hari2 yang kami lewati tidak secerah dulu, tetapi ku masih bersyukur karena masih memiliki kedua orang tuaku & Luc. Selalu berdoa & berharap ayah bisa sadar & bangkit dari keterpurukannya.

----------> lanjut ke part 3


Wednesday, 18 May 2011

Setelah....

Part 1


Kebahagiaan yang terusik

Kami tinggal di sebuah pinggiran kota New York. Walaupun dengan kehidupan yang sederhana kami sangat bahagia karena memiliki kedua orang tua yang begitu mencintai kami. Aku dan adikku Luc, ibuku hanya bekerja dirumah mengurus kami dan kebunnya. Ayah bekerja di salah satu pabrik pertambangan di kota kami. Mungkin aku merasa sangat bahagia dengan keluarga kami. Setiap akhir pekan ayah selalu mengajak aku & adikku Luc untuk menemaninya memancing di danau dekat rumah. Sesampai dirumah ibu telah menyiapkan makanan kesukaan kami. Ayah selalu mengajak kami liburan ke tempat2 yang belum pernah kami kunjungi jika liburan tiba. Sungguh aku sangat sayang dengan mereka.

Hari itu masih kuingat dengan baik, minggu pertama di bulan desember. Seharusnya menjadi bulan yang penuh bahagia bagi kami. Di setiap Natal ayah selalu memberikan kejutan & hadiah buat aku & Luc. Saat pulang sekolah di siang itu, aku langsung masuk ke dalam rumah untuk menghangatkan badan karena cuaca diluar cukup dingin. Di ruang tengah nampak ibu duduk di sofa dengan mata sembab. Dalam hatiku, pasti sesuatu telah terjadi. Aku memberanikan diri menghampirinya, "Bu, apakah ada sesuatu yang buruk terjadi? Mengapa ibu begitu sedih". Ibu tersentak sebentar dan cepat2 menghapus air matanya yang telah menetes di pipinya. "Baiklah kamu tahu anakku, ayahmu telah di phk dari pekerjaannya, katanya dengan mata berkaca-kaca". Sekujur tubuhku terasa dingin, tidak bisa berkata apa2. Dalam benakku apa yang akan terjadi nanti kalau ayah kehilangan pekerjaan yang telah dijalaninya selama 20 tahun terakhir. Ayah pasti sedih, mengapa harus ayah yang di phk karena krisis ini? Semua itu ada di dalam pikiranku.

Ibu masih duduk terdiam di ruang tengah begitu juga aku. Luc pasti masih di tempat bibi Annie. Luc setiap sore selalu bermain kesana karena bibi Annie sangat menyayanginya. Di dalam kebisuan kami, ayah nampak sedih menghampiri kami. Dia tahu kami juga sangat mengkhawatirkan keluarga ini. "Ayah  pasti bisa lagi mencari pekerjaan lain", kataku memberikan semangat kepada ayah. "Kamu tidak akan mengerti anakku, selama 20 tahun ayah telah bekerja disana & sekarang semuanya berakhir", katanya dengan wajah penuh amarah & sedih. Malam itu merupakan malam yang paling kelabu bagi keluarga kami. Udara dingin diluar seakan mengalir di sekujur tubuhku. Si kecil Luc tidur disampingku, pikirku adikku tidak akan mengerti masalah yang sekarang kami hadapi. Luc masih terlalu kecil, dia baru berumur 6 tahun. Ku coba untuk memejamkan mata ini, berharap esok keadaan akan kembali baik seperti semula. 

--------- > bersambung ke part 2



Thursday, 24 March 2011

Pak Boss part 2

Melanjutkan cerita nich...
About Meeting....


Masih mengenai meeting yang akan dilanjutin sore hari. Semua sudah pada kasak-kusuk ingin meninggalkan meeting yang pasti akan menyita waktu & pikiran ( membosankan pastinya...hehehehe...). Terasa cepat banget hari itu , tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Bukannya tadi Pak Boss mau meeting jam segitu koq orangnya gak nonggol2 ya. Pertanda baik atau buruk nich ? Berdoa saja semoga jarum jam semakin cepat bergerak ke angka 5 , dan siap2 untuk pulang ( hehehehe....). Apa Pak Boss ketiduran ya di rumah, atau lagi ngantar istri belanja ( apa pun itu yang penting aman sampai jam 5 sore ). 

Karyawan semua sudah pada senang , beberapa saat lagi jika Pak Boss tidak datang maka acara meeting bubar. Tiba2 si Nur ( nama samaran ) recepsionist menyambungkan telpon ke meja ku.

Nur   :   Kak ,  Bapak nelpon  katanya mau bicara sama kakak . ( panggilan ke Pak Boss kalau di office "Bapak" )

Nah...loh...firasatku sudah gak enak nich , ngapain jam segini pakai acara telpon segala. Mungkin mau bilang besok dia gak masuk kali ya ( berharap mode on ). Akhirnya kuangkat juga telpon Pak Boss , dari sebrang sana terdengar suara berisik banget. Pak Boss apa lagi di pasar ya? hehehehe... Terdengar juga suara Pak Boss setelah beberapa detik cuma halo-halo saja. Untung gak gw tutup telponnya.

Pak Boss  :  Suruh si Heri jemput saya sekarang juga .

Kata Pak Boss dengan kencang , kenapa lagi Boss ku ini.

Me        : Lah , Bapak emang dimana " ? . ( pura2 kaget...hehehehe...)

Pak Boss : Di jalan A , mobil gak bisa jalan . Sekarang juga ya!

Yeii...emangnya mobil express bisa langsung sampai...hihihihihi...

Dalam hati senang nich berarti batal dech meeting , pasti langsung ke bengkel si boss.

Me          : ok2 , Bapak tunggu bentar ya, Heri saya suruh kesana

Ku jawab langsung biar cepat selesai pembicaraan.

Pak Boss : Jangan lupa kamu ingatkan karyawan semua tetap berkumpul di ruang meeting sebentar lagi saya  
 kesana.

Me           : tidak bisa berkata-kata lagi .

Waduh ...itu yang ingin kami hindari , tetap saja diingat Pak Boss. Kapan mulai lagi nich meeting ? bisa2 sampai jam 9 nich. Mau dibantah perintah Pak Boss gak enak pula.

Akhirnya dengan sangat terpaksa gw mengumumkan amanat Pak Boss ( hehehe...bisa diduga kan apa yang terjadi??? ).

Karyawan    :  Wah...gimana seh Bu , sudah mau jam 5 masih mau meeting , apa gak bisa tunda besok saja .

Beginilah yang buat gak enak, karyawan jadinya menumpahkan uneg2  ke gw.

Me           : Kalau mau besok boleh tapi telpon dulu ke Pak Boss ,

Dijamin tidak ada yang berani nelpon ( jurus paling ampuh ...hihihihi...). Akhirnya dengan terpaksa semua masuk ke ruang meeting menunggu kedatangan Pak Boss. Setelah menunggu beberapa saat , muncul lah Pak Boss.

Pak Boss : Maaf ,  sudah menunggu lama ya ? Mari kita mulai meetingnya .

Itulah gaya Pak Boss kalau terlambat meeting. Karyawan hanya bisa terdiam saja. Sebenarnya dalam hati ingin berteriak " batalin saja meetingnya Pak , biarkan kami pulang ". Kan masih ada hari esok.


Meeting pun dimulai , satu-persatu ditunjuk Pak Boss untuk menyampaikan idenya. Mulai absen satu persatu ( hehehehe...).

Pak Boss    : Jangan lupa dicatat semua ide mereka
Me             : Iya ( singkat , padat & jelas )

Itulah pekerjaanku , sampai menjadi asistennya Pak Boss. Mesti mencatat secara detail apa yang dibicarakan dalam meeting dan menyerahkan hasil meeting keesokan harinya ( tentunya harus diketik dengan rapi ). Bisa dibayangkan berapa lama meeting yang menurut Pak Boss super duper penting. Dua puluh satu orang harus menyampaikan satu2. Untungnya pada sadar & menyampaikan sesingkat mungkin ( biar cepat selesai ). Giliran Pak Boss yang bingung memilih-milih mana yang bagus. Setelah melewati perdebatan & pemilhan yang cukup ketat ( seleksi apa nich? hehehehehe...) akhirnya dipilih beberapa ide yang menurut Pak Boss bagus.

Pak Boss    : Yang penting bagaimana menarik minat pembeli tanpa mengeluarkan biaya promosi yang   banyak , seminimal & seefisien mungkin

Itulah Pak Boss , ingin hasil yang maksimal tapi menekan biaya sekecil mungkin. Tidak pernah berubah , sudah bisa di duga.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 8 malam. Pak Boss pun mengakhiri meeting , si Udin ( nama samaran ) office boy kami yang paling rajin masuk ke ruangan dengan membawa beberapa piring gorengan.

Pak Boss   : Silakan dimakan dulu untuk mengisi perut , pasti sudah lapar kan?

Pak Boss yang berubah baik (jarang2 loh...) . Bukannya lapar Pak tapi sudah kelaparan dalam hati berkata.

Pak Bos    : Yang rumahnya jauh & tidak mempunyai kendaraan nanti suruh sopir yang ngantar pulang

Tuh...kan...ada sisi baiknya juga Pak Boss . Setidaknya memperhatikan keselamatan karyawannya. Kalau begitu hati pun jadi tenang , karena gak perlu malam2 naik carry untuk pulang ke rumah.
Makasih Pak Boss...besok2 meetingnya jangan sampai malam donk ( hehehehe...). Pokoknya hari itu super capek dech . Lapar + ngantuk + capek jadi satu. Cuma berharap ide2 nanti bisa jalan sesuai keinginan & tidak sia2 mengorbankan waktu begitu lama. Bukannya pesimis tetapi apa yang telah disepakati kadang  tidak pernah berjalan sesuai keinginan. Pasti ada saja halangan & rintangan. Semoga ini berjalan mulus & lancar.

Sampai jumpa lagi di cerita Pak Boss yang lainnya....




Wednesday, 23 March 2011

Pak Boss part 1

Meeting lagi

Bekerja sama orang memang ada enak dan tidak enaknya, benar gak? Yang namanya Boss ada gak yang baik hati sama karyawannya. Hehehehe...mungkin dari 10 boss cuma 1 saja yang benar2 baik & memperhatikan karyawannya. Diingat2 dulu waktu kerja jadi senyum2 sendiri , pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana tidak menghadapi boss yang super duper cerewet & pelit pastinya. Dimana2 boss itu pelit kali ya ? & penuh perhitungan. Jadi ingat hari2 dulu di kantor , kadang senang kadang kala dibuat kesal oleh Pak Boss.

Jadi ingat waktu meeting, hehehehe...semua  karyawan disuruh berkumpul. Jadilah gw pun ikut di dalamnya , maklum sebagai kepala dari semua divisi terkecuali marketing ( berat banget nich jabatan hehehe...dari A-Z mesti diurusin ). Setelah terkumpul semua karyawan , akhirnya Pak Boss mulai meeting. Gak jelas apa yang dibicarakan ( ngantuk.com jadinya semua ) , muter2 cerita lagi ( semua pada gak sabaran cepat2 mau keluar ...) tambah pusing nich kepala. Dan akhirnya dengan gaya boss bicara " kalian diharapkan memberikan ide2 untuk meningkatkan penjualan kita " waduh harusnya dari tadi bilang saja. Ya ... Pak Boss selalu begitu , meeting dari pagi jam 9- 12 siang cuma mau bicarakan itu. Bisa dibayangkan keadaan kami yang sudah tak konsentrasi , sudah lapar tentunya karena udah jam makan siang belum lagi kerjaan masih menumpuk ( tambah2in kerjaan aja  , pdhl gk ada hubungannya kali..). Cukup meeting dengan bagian marketing saja , tapi itulah ciri khas Pak Boss.  Dan akhir meeting dengan santai Pak Boss berkata " nanti jam 4 sore kita kumpul lagi, saya harap kalian telah menyiapkan ide2 sekian & terima kasih ". Membayangkan jam 4 sore nanti jadi kepala ini terasa muter2. Bisa sampai jam berapa nantinya??? .


Yang penting sekarang istirahat & makan dulu. Nanti baru dipikirin idenya , jadi beban nich bagi kami. Tau lah Pak Boss kalau nanti sore meeting pasti ditanyain satu2 ( spt absen saja...hihihihihihi...). Mesti disiapkan tuh ide , kalo gk bisa2 dimarahin Pak Boss. Isi tenaga dulu baru bisa menghadapi meeting yang bisa2 sampai malam. Pak Boss mah enak , abis meeting langsung hilang orangnya. Paling2 tar sore baru nonggol lagi. Itulah jadi karyawan , hehehehe...tapi dibawa happy saja. Apa yang diperintahkan Pak boss mesti dijalanin , biar aman. 

Walaupun kadang buat kesal tetap ada sisi baiknya.

Lanjut lagi ya ------- >